Akhirnya kami tiba di tempat wisata terakhir dari rangkaian Barelang tour ala kami, pasukan dormitori
. Sebelum memasuki kawasan pantai Melur, begitu berbelok keluar dari jalan raya Barelang, kami sudah disuguhi keindahan hutan di perbukitan pulau Galang. Jalan berkelok dan rimbunnya hutan seolah menjadi “hidangan pembuka” sebelum kami menikmati indahnya pantai yang terkenal dengan hamparan pasir putihnya.
Ada yang mengatakan butiran pasir di pantai yang senantiasa menawarkan kesegaran bagi pengunjungnya ini lebih istimewa dibanding pantai lainnya. Butiran pasir di pantai yang membentang lebih dari dua kilometer ini lebih halus dan berbentuk seperti kristal.
Air lautnya yang jernih mengundang siapapun untuk berenang dan menyerap keteduhan samudera yang bersih dan belum tercemar itu. Ditambah lagi permukaan dasarnya yang landai dan tidak berkarang cukup aman untuk berenang hingga sejauh 500 meter dari bibir pantai. Pantai Melur sungguh eksotis, saya mengagumi dalam hati, karena jernihnya air kita bisa menyaksikan ikan yang berseliweran di dasar laut.
Puas berenang, kami menikmati es kelapa muda di tepi pantai yang masih banyak menyimpan potensi untuk dikembangkan ini. Rimbunnya pohon cemara di tepi pantai semakin memanjakan para pengunjung. Bila Anda merebahkan badan untuk sekedar rehat melepaskan lelah, seperti ada yang memerintah, semilir angin pantai akan membius Anda, mengantar imajinasi menembus alam-alam kedamaian.
Tanpa terasa, matahari sudah mulai menguning tanda senja sebentar lagi akan menyapa pantai yang senantiasa ramai di akhir pekan ini. Kami bergegas, kembali memasuki metrotrans dan membiarkan pengemudi itu membawa jasad kami yang sudah ditinggal ke alam mimpi karena kantuk dan lelah yang tertahankan, pulang ke dormitori, Batam.
Sampai berjumpa lagi dalam pengalaman dan tour yang akan datang
.
Gambar diambil dari Kaskus.
April 19th, 2009 | Posted in Batam | 25 Comments
Setelah puas merangkai enam jembatan Barelang yang berakhir di pulau Galang Baru, tujuan kami berikutnya kamp pengungsi Vietnam. Kami sempat berdebat dulu sebelum memutuskan untuk singgah karena beberapa kawan ingin langsung ke pantai Melur.
Bukan hanya ingin segera menceburkan diri ke laut untuk melawan panasnya udara siang, tapi di antara kami yang saat itu masih berjiwa muda, kurang bisa menikmati wisata sejarah tersebut. Padahal pepatah bilang, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akan sejarahnya“. Yahh..namanya juga anak muda, tapi toh akhirnya kami berkunjung juga
.
Jalan masuk ke perkampungan yang menyisakan banyak kenangan ini tidak selebar jalur utama Barelang, namun suasananya lebih sejuk dan asri. Begitu memasuki kamp yang kini direstorasi menjadi salah satu tempat wisata sejarah, dengan mudah kami membaca “Galang, Memory of a Tragedic Past” di sebuah plang besar. Kala itu dengan bahasa Inggris yang pas-pasan kami terjemahkan “Galang, Kenangan akan Tragedi Masa Silam”.
Sungguh, bukannya teringat akan cerita pelarian pengungsi Vietnam, saya justru teringat salah satu film yang dibintangi Sylvester “Rambo” Stallone. Sepintas saya memang pernah mendengar tentang pulau Galang yang tiba-tiba menjadi perhatian dunia dan UNHCR (United Nation High Commission for Refugees), namun sulitnya menjangkau informasi dan media dari kampung kami dulu, membuat saya tidak tahu banyak.
Belakangan baru saya ketahui kisah memilukan di balik kamp yang terletak di desa Sijantung dan berada diatas bukit seluas 80 Ha ini. Semua berawal dari konflik antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara (Vietkong) pada tahun 1970-an. Pengambil alihan Saigon, ibukota Vietnam Selatan oleh Vietnam Utara pada tahun 1975 memicu berulangnya kembali peperangan. Situasi ini memaksa ribuan warga Vietnam eksodus besar-besaran keluar dari negeri itu. Read the rest of this entry »
April 18th, 2009 | Posted in Batam | 5 Comments
Sekitar pukul 10:30 kami tiba di pulau Galang Baru, berarti perjalanan kami memakan waktu 40 menit dari Jembatan satu hingga ke ujung pulau terakhir dari tujuh pulau yang kini menyatu berkat enam jembatan yang lebih dikenal sebagai Jembatan Barelang.

Sebenarnya waktu tempuhnya masih bisa dipersingkat karena jalanan cukup lengang. Sengaja kami minta pada pengemudi metrotrans untuk berjalan pelan agar bisa menikmati pemandangan di sepanjang pulau-pulau yang kami lewati. Meski tidak terlalu curam, jalanannya naik turun, melewati tanah yang berbukit-bukit dan berkelok. Mengingatkan saya akan lagu yang sering dinyanyikan anak-anak “Naik-naik ke puncak gunung”. Lagu itu begitu menancap dalam ingatan saya karena kejadian masa kecil sewaktu masih duduk di taman kanak-kanak (TK).
Waktu itu kami sedang bertamasya, di sepanjang perjalanan kami menyanyikan lagu tersebut meski jalan yang kami lalui lurus dan datar tipologi khas jalur pantura. Namanya juga anak-anak, di tengah asyiknya bernyanyi salah satu kawan saya muntah karena mabuk kendaraan. Yang membuat saya selalu ingat kejadian tersebut, kawan itu duduk persis di samping saya dan sebagian muntahannya mengenai rambut bu Iis yang hitam dan panjang itu.
Bu Iis, ibu guru kami yang cantik dengan sabar membantu kawan saya mengendalikan diri dan rasa pusingnya. Tidak saya lihat sedikit pun raut kecewa di wajah yang ayu alami khas perempuan desa itu. Mungkin karena itulah kami semua begitu bangga dan sayang dengan ibu guru yang juga pandai menyanyi itu. Read the rest of this entry »
April 17th, 2009 | Posted in Batam | 3 Comments
Sepuluh menit setelah melewati DAM Muka Kuning, kami sampai di persimpangan Barelang, simpang tiga yang memecah jalan dari arah Muka Kuning. Satu arah ke Batu Aji, suatu kawasan perumahan penduduk yang menjadi tempat tinggal kami sekeluarga sekarang. Satunya lagi, jalan aspal yang lebar dan mulus menuju jembatan Barelang yang hendak kami kunjungi.

Jalan ke arah Barelang saat itu terbilang masih sepi, hanya satu dua mobil atau motor yang kami jumpai. Jarak tempuh ke jembatan Barelang dari Kawasan Industri Muka Kuning sekitar 14 kilometer, atau hanya 8 kilometer dari simpang tiga yang baru saja kami lewati. Dengan kondisi aspal kualitas prima dan sepinya jalanan, hanya diperlukan beberapa menit saja untuk mencapainya. Namun, jalannya metrotrans serasa lamban sekali, rasa penasaran akan jembatan termegah yang selama ini hanya saya dengar dari cerita kawan-kawan yang sudah lebih dulu berkunjung membuat perjalanan ini semakin lama. Ingin sekali saya pindah duduk di bagian depan agar bisa membantu sopir metrotrans itu menginjak pedal gas kuat-kuat
. Read the rest of this entry »
April 16th, 2009 | Posted in Batam | 11 Comments
Sebenarnya agak berlebihan bila disebut Barelang tour, perjalanan kami, saya beserta tujuh orang kawan sekerja, menyusuri Barelang. Bagi Anda yang belum tahu, Barelang merupakan kependekan dari Batam - Rempang - Galang, nama tiga pulau besar yang sekarang sudah terhubung rangkaian jembatan Barelang, sebuah jembatan megah yang kini menjadi icon kota Batam.
Saat itu, sekitar akhir tahun 2001, ketika resesi sedang melanda dunia semiconductor, bidang yang menjadi bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Karena order yang jauh menurun, kami mendapat tambahan libur tanpa dipotong cuti alias liburan cuma-cuma. Kami bekerja selama satu minggu dan satu minggu berikutnya kami libur. Gampangnya, kalau merujuk pada istilah peraturan ketenagakerjaan, kami sedang dirumahkan
.
Kondisi yang hampir mirip dengan krisis sekarang, bedanya dulu yang terimbas hanya perusahaan-perusahaan yang inti bisnisnya dalam bidang semiconductor saja, sedangkan krisis global yang kini terjadi hampir menghantam setiap lini kehidupan. Read the rest of this entry »
April 15th, 2009 | Posted in Batam | 4 Comments